Kebanyakan orang yang tinggal di perkotaan kini tidak lagi menggunakan nama kampung sebagai penanda. Mereka memilih menyebut nama jalan atau gedung sebagai ancer-ancer. Pergeseran itu sepertinya alamiah belaka lantaran nama-nama kampung tak lagi banyak dipergunakan. Termasuk urusan administratif, pemerintah juga sudah meninggalkan dan merasa sudah cukup dengan menuliskan nama jalan atau gang, nomor rumah, RT dan RW.
Coba saja bila Anda berada di Kota Solo, tanyakan pada anak-anak muda di sekitar Keraton Kasunanan, di mana letak Kampung Nogobandan atau Kampung Yosodipuran. Boleh jadi mereka akan terbengong. Kalau tidak dengan menjawab, “Kalau Jalan Yosodipura saya tahu, di sebelah barat Pura Mangkunegaran.”
Padahal, nama-nama kampung itu tak hanya sekadar penanda. Ada sejarahnya mengapa suatu tempat diberi nama seperti itu. Tak sekadar asal-usul pemberian nama tetapi juga menyimpan folklore, legenda, atau bahkan menggambarkan karakter sosial masyarakatnya. Sayangnya, nama-nama seperti Kampung Tempen, Jongasan, dan Gabudan memudar.
Penataan wilayah dengan menggunakan sistem administrasi RT dan RW warisan Jepang andil menggerus nama-nama kampung. Ditambah lagi dipakainya nama-nama pahlawan yang kadang entah darimana asalnya itu, ikut pula memudarkan.
Pemerintah Kota Solo yang bertekad membangun dengan Spirit Solo Past is Solo Future pun sepertinya masih belum memberikan perhatian soal ini. Seruan penggunaan aksara Jawa masih terlalu artifisial. Akan sangat berbeda rasanya bila nama kampung dikembalikan terlebih dahulu agar tak terasa janggal bila membaca aksara Jawa yang justru bertuliskan istilah asing.
Penggunaan kembali nama kampung bukanlah sekadar romantisme belaka, tetapi suatu strategi untuk mengakui identitas lokal. Sejarah pembentukan kampung menyimpan kearifan lokal yang jarang kita gali. Perubahan sosial dan watak masyarakat suatu kampung bisa ditelusuri.
Misal, untuk menjelaskan mengapa Kampung Tempen yang secara administratif berada di wilayah RW III dan RW II Kalurahan Joyosuran, Kecamatan Pasarkliwon, Solo ini itu berubah dari kampung produktif, yakni penghasil tempe untuk dhahar dalem kraton kini berubah 180 derajat jadi kampung “konsumtif”.
Dipublikasikan pertama kali di Harian Kompas Jawa Tengah halaman I Senin 1 Juni 2010
lestarikan folklore asli SOlo
Ketakutan saya justru pada penggunaan nama gedung/fasilitas umum, bangunan2 komersial yang jadi penanda suatu tempat..
tapi di sisi lain, ada pihak profesional yang membutuhkan nama jalan sebagai penanda. semisal sopir taksi.
kalau soal nama kampung malah jakarta masih pakai. misalnya, rumah saya di tebet, padahal tebet itu ambane sak emboh…yang nyari dadi angel. kalau di jogja opo solo enak, karena disebutkan nama jalan plus km nya. mungkin yang perlu di ganti adalah nama jalan, diganti dengan pahlawan atau orang yang berjasa di solo. koyo gesang atau yosodipuro.
saalamm kenal… Kunjungan persahabatan….
kunjungi juga blog saya di ichwana.blogdetik.com dan di blog.unand.ac.id/ichwana
Hm… dah tau cara mendapatkan uang gratis melalui internet disini caranya
terima kasih….
Aku cah Serengan ae ra ngerti iku kampung Tempen